Urgensi Pendidikan Akhlak


 Pendidikan yang dilaksanakan pada prinsipnya semua sama, yaitu memberi bimbingan agar dapat hidup mandiri sehingga dapat meneruskan dan melestarikan tradisi yang hidup di masyarakat. Pengertian pendidikan dapat dilihat pada Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidian nasional yang berbunyi : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia  yang berilmu, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, kreatif, cakap, mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.[1]

Dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional tersebut sejalan dengan tujuan yang dikehendaki oleh pendidikan Agama. Adapun tujuan pendidikan agama antara lain:  Membentuk prilaku manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT, diperlukan adanya bimbingan, tujuan pendidikan Islam itu adalah mendidik dan mengarahkan manusia kepada jalan Allah SWT, sebab dalam pendidikan mencakup aspek kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.

Agama Islam adalah agama  yang memegang soal-soal negara dan agama merupakan soal yang tidak terpisah-pisahkan, karena itu pendidikan dalam Islam adalah satu macam pendidikan yang mempersiapkan seorang untuk mendapat dunia dan akhirat, menurut Islam kebahagiaan di akhirat tergantung pada kebahagian di dunia. Agama islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul. Pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi banyak segi dari kehidupan manusia.[2]

Pendidikan dan bimbingan berfungsi sebagai jalan menuju kedewasaan yang mencakup aspek kehidupan dunia dan di akhirat kelak, sehingga dalam pembentukan watak manusia yang beriman peran orang tua sangat dibutuhkan, yang menyangkut Hablum Minannas bahwa manusia itu hidup bermasyarakat dengan demikian manusia harus mempunyai tata krama dalam kehidupannya. Manusia mempunyai banyak kecendrungan, ini disebabkan oleh banyaknya potensi yang dibawanya, dalam garis besarnya kecendrungan itu dapat dibagi dua, "yaitu kecendrungan menjadi orang yang baik dan kecendrungan menjadi orang yang jahat, kecendrungan beragama termasuk kedalam kecendrungan menjadi baik".[3]  Islam berprinsip sangat demokrasi maka ajarannya merupakan tentang pengetahuan  agama sehingga dalam Islam selalu mengajarkan pendidikan yang saling menghargai orang lain dan berlaku baik terhadap sesamanya.

Namun kesemuanya itu tidak terlepas dari ketergantungan manusia dalam pendidikannya, sebab pendidikan menjadi panutan anak di dalam bergaul dimasyarakat, jadi pendidikan membentuk manusia yang baik dalam segi kehidupan, mendidik manusia secara sadar oleh orang yang bertanggung jawab terhadap anak didiknya untuk membawanya ketingkat yang lebih sempurna guna mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan agama adalah sasaran yang harus dicapai oleh anak didik itu sendiri karena inilah yang menggabarkan harapan masyarakat tentang hasil pendidikan, baik dalam arti kuantitatif maupun kualitatif.

Tujuan umum pendidikan akhlak ialah "Membimbing anak agar menjadi manusia muslim sejati, beriman teguh, beramal saleh, berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan bangsa".[4] Maka tujuan pendidikan akhlak diartikan sebagai rumusan kualisifikasi pengetahuan kemampuan sikap yang diharus dimiliki oleh anak didik setelah menyelesaikan suatu program pengajaran

Sedangkan tujuan nasional berdasarkan pancasila juga merupakan tujuan pendidikan akhlak, karena peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana yang dimaksudkan oleh GBHN dan amanat undang-undang dasar 1945 yang kemudian ditegaskan Undang-Undang No. 2 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang bertujuan :
a.    Anak usia pendidikan setingkat menengah adalah usia yang sangat memperhatikan akan alam dan lingkungannya, berusaha untuk dapat merasakannya, sifat pada usia ini sangat menghendaki penjelasan yang masuk akal dan dapat dijangkaunya dengan pikiran dan kenyataan hidup.
     Proses pendidikan akhlak hanya dapat berjalan dengan baik, bila lingkungan yang diciptakan oleh pendidikan mempunyai sifat-sifat yang utuh, sehat dan seimbang, dan yang paling penting ialah lingkungan keluarga dan sifat- sifat yang akan mempengaruhi yang terjadi secara serentak, artinya segala aspek kehidupan keluargalah yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.[5]
    Pengaruh dari guru memberi kesan dan dapat ditiru oleh seorang anak, sehingga potensi-potensi dasar yang dibawa anak sejak lahir akan tumbuh dan berkembang seperti yang diharapkan dengan pembinaan yang baik dari orang tuanya.
b.    Memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan
     Ilmu pengetahuan dan keterampilan bagi anak sangat diperlukan karena dengan adanya ilmu dan keterampilan anak akan mudah hidup mandiri dan mampu membangun dirinya sendiri, karena pada zaman sekarang sangat diperlukan adanya keterampilan untuk menyongsong masa depan yang gemilang. "Untuk mengaktualisasikan tujuan tersebut dalam pendidikan islam, keberadaan pendidik dalam dunia pendidikan sangat krusial, sebab kewajibannya tidak hanya mentranspormasikan pengetahuan tetapi juga dituntut menginternalisasikan nilai-nilai pada peserta didik".[6]
Dengan ketatnya kondisi global, kita dituntut untuk semakin profesional dan mempunyai skill yang berkualitas untuk berkompetensi, jadi pada zaman sekarang ini ilmu pengetahuan dan keterampilan harus dimiliki oleh setiap individu karena dengan keterampilan dan memiliki ilmu pengetahuan maka keadaan kehidupan akan lebih maju dimasa yang akan datang yang memiliki ilmu dan keterampilan itu tidak akan pernah datang sendiri, tanpa kita gali sendiri dan kita sendiri yang mengubah diri kita menjadi orang yang terampil dan berilmu pengetahuan.
c.    Mampu mengembangkan diri dalm masyarakat.
Kehidupan bermasyarakat tentunya anak akan bergaul dengan orang lain, dalam kehidupan sering kita temui berbagai lapisan masyarakat yang berbeda. Masing-masing manusia mempunyai sifat, kemauan dan keinginan yang berbeda antara seseorang dengan orang lain, dalam masyarakat terdapat manusia yang berbeda latar belakang ekonomi, pendidikan agama dan lain.

Setelah keluarga yang bertanggung jawab terhadap pembentukan prilaku (akhlak) anak adalah juga  masyarakat ikut membentuk pola prilaku anak karena,  masyarakat  merupakan tempat anak itu dibesarkan dan bergaul, lingkungan tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak karena jika lingkungan masyarakat baik maka anak itu akan berprilaku baik dan sebaiknya.

Perbedaan-perbedaan itu dapat menimbulkan keresahan atau kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu dapat teratasi apabila setiap anggota masyarakat memiliki akhlak yang baik, jika anggota masyarakat mempuyai akhlak yang buruk tentunya kehidupan masyarakat akan rusak dan tidak aman, sesungguhnya lingkungan yang mengelilingi anak dianggap sebagai suatu faktor yang sangat penting bagi pembentukan kepribadiannya.[7]

Sama halnya dengan kehidupan hewan yang saling memperebutkan dan saling menerkam untuk kepentingan diri sendiri serta tidak menghiraukan orang lain, perilaku terbentuk dengan adanya kepatuhan terhadap norma-norma atau nilai-nilai dari akhlak, hukum, adat istiadat, manusia diberi akal yang baik dan yang buruk, dengan perilaku yang baik yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat senantiasa akan aman dan tenteram dalam kehidupan masyarakat.

Allah juga menyerukan kepada hambanya menjalankan hidup sesuai dengan ajaran Islam, dengan berpegang teguh pada norma-norma agama kita akan mampu mengontrol kearah yang lebih baik.  Jika ajaran agama telah tertanam dalam diri dan perasaan seseorang maka seorang muslim akan menjadikan agama  sebagai rujukan  ketika dia dihadapkan pada suatu masalah dalam pergaulan sehari- hari.

Berdasarkan uraian di atas pengembangan kontrol tersebut dapat disempurnakan melalui pengkajian ilmu agama, artinya setiap orang harus meluangkan waktunya untuk mencari ilmu pengetahuan dengan membaca buku-buku ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan lainnya, seorang akan mampu menjalani norma- norma.

Pendidikan bila dihadapkan pada masa yang akan datang cepat atau lambat dipastikan akan terjadi perubahan nilai sebagai mana yang dapat kita rasakan sekarang ini, disinilah diperlukan tuntunan pendidikan akhlak serta tatanan dalam masalah aqidah, rasa cinta dan penghormatan, hamba kepada khaliqnya (Allah), yang akan memberikan keharusan untuk mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhkan segala larangan-Nya. Lalu penyerahan hati, yakni ridha dan taat, dan tidak menggangu orang lain, baik dengan lisan atau tangan dan menunjukkan rasa ikatan ukhuwah imaniyah.[8] Untuk mencapai hal tersebut di atas maka pelaksanaan pendidikan menurut penulis dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:
1.    Membina manusia yang mampu melaksanakan ajaran agama Islam yang sesuai dengan Al-Qur'an dan hadits.
2.    Mendorong manusia untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.
3.    Untuk mendidik seseorang mengerti masalah agama.

Untuk memahami ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits serta mengumpulkan hukum-hukum dari ayat-ayat untuk keperluan pribadi, masyarakat dan bangsa, serta untuk memperbaiki budi pekerti sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, dengan ucapan dan perbuatan-perbuatan sehingga menjadi suri tauladan bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Agama Islam juga memerintahkan kepada semua pemeluknya agar giat bekerja, berusaha dan melarang untuk berpangku tangan saja, karena tujuan pendidikan agama dalam Islam dan tujuan pendidikan nasional bertujuan untuk memberikan kebahagian hidup di dunia bagi setiap manusia.

            ***






1 Undang-Undang RI No 20, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta:  Cipta Jaya, 2003), hal. 7
2 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai aspeknya  (Yogyakarta: UI. Press, 1974), hal.24
3 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991), hal. 35
4 Juraini, Metode Khusus Pendidikan Agama,  (Malang: Rosda Karya, 2001), hal. 43
[5]Ali Syaifullah H.A, Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Usaha Nasional, (Surabya: Rosda, 2002), hal. 109
[6] Ramayulis , Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2007), hal. 55
[7] Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, Psikologi Anak Dan Remaja Muslim, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009), Cet. VI. hal. 33
[8] Tim Ahli Ilmu Tauhid,  Kitab Tauhid 2, (Jakarta: Darul Haq, 1998), hal. 11

Belum ada Komentar untuk "Urgensi Pendidikan Akhlak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel