Pengertian Strategi Guru Pada Taman Kanak-kanak

Strategi merupakan cara yang dilakukan guru dalam mengenalkan pembelajaran kepada anak didik. Pengaturan-pengaturan komponen-komponen pengajaran menjadi suatu sistem untuk mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang direncanakan, perlu diketahui oleh guru melalui strategi belajar mengajar dan anak anak didik mampu melaksanakan dan serta mengatasi program dan permasalahan Pendidikan dalam pengajaran, serta para pendidik dan anak didik memiliki wawasan yang terarah, sistematis dan efektif. Secara umum strategi dapat diarti sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk mencapai tujuan. Strategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang kondusif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.[1] Strategi juga diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. [2]

Dapat dipahami bahwa strategi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran untuk memberikan rasa kondusif pada anak dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Strategi dapat diarti sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk mencapai tujuan. Strategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang kondusif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan tujuan pembelajaran.[3] Strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil guna.[4] Strategi pembelajaran dapat dipadang sebagai suatu kegiatan pembelajaran harus dikerjakan baik oleh pendidik maupun peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.[5] Strategi dalam penelitian ini adalah suatu upaya yang dilakukan oleh guru dalam pengenalan anatomi tubuh anak melalui tema diri sendiri.

Guru adalah orang yang berpengalaman dalam profesinya, dengan keilmuan yang dimilikinya dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.[6] Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 74 Tahun 2008 tentang guru dalam Bab I ketentuan umum dipasal 1 menjelaskan bahwa “ guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik,mengajar, dan membimbing, mengararahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.[7] Pendidik PAUD adalah pendidik yang bertugas di berbagai jenis layanan baik pada jalur pendidikan formal maupun non formal seperti, TK/RA, KB, TB dan bentuk lain yang sederajat.[8] Pendidik dalam konteks ini adalah setiap orang yang melakukan bimbingan, pembinaan, dan pengasuhan terhadap anak usia dini yang diwujudkan melalui proses pembelajaran yang telah direncanakan.

Syarat untuk menjadi tenaga pendidik (guru) PAUD di Indonesia telah diatur dalam Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dalam Permendiknas tersebut dijelaskan bahwa “untuk menjadi tenaga pendidik PAUD seseorang harus memiliki kualifikasi akademik minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi”.[9] Guru juga merupakan sosok pendidik yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladan, yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didiknya.[10]

Selain memenuhi syarat kualifikasi akademik sebagaimana yang disebutkan diatas, seorang guru TK/PAUD wajib pula memiliki kompetensi-kompetensi sebagai pendidik anak usia dini. Kompetensi ini sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam melakukan proses pembelajaran. Adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki guru TK/PAUD yaitu:1) kompetensi pedagogi, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi sosial dan 4) kompetensi professional.[11]

Kompetensi pedagogi, yaitu: kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan siswa untuk mengaktalisasikan potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian, yaitu: kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa dan arif, dan berwibawa yang akan menjadi teladan bagi peserta didik serta berakhlak mulia. Adapun kompetensinya diantaranya adalah: berprilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia, berprilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat disekitarnya, menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi, bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri, bekerja mandiri secara professional, berprilaku sesuai kode etik guru.[12]

Kompetensi sosial, yaitu: kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif diantara peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Adapun kompetensinya sebagai berikut: tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi, berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik dan efektif , berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik, berkomunikasi dengan teman sejawat, profesi ilmiah dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

Kompetensi professional, yaitu: penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing siswamemenuhi secara standar kompetensi yang ditetapkan. Adapun kompetensinya sebagai berikut: Memahami kemampuan anak TK/PAUD dalam setiap bidang pengembangan, memilih materi bidang pengembangan yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri secara terus menerus, mengikuti kemajuan zaman dengan belajar dari berbagai sumber.[13]

Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya seorang guru khusunya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar mensosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya guru bertanggung jawab “ guru dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya tergantung pada tugas itu sendiri, tetapi tergantung pula sikap dan pandangannya secara pribadi yang dihadapinya”[14] . Seorang yang secara pribadi khusus yakni pengetahuan sikap terampilan keguruan yang akan di tranformasikan kepada anak didiknya. Seorang guru selain sebagai aktor utama kesuksesan pendidik yang direncanakan ada beberapa tugas dan fungsi guru yaitu:

a. Educator yaitu pendidik yang merupakan tugas pertama guru untuk mendidik murid-murid sesuai dengan materi pelajaran yang diberikan kepadanya. Sebagai educator, ilmu adalah syarat utamanya.

b. Leader yakni seorang pemimpin, guru juga merupakan seorang pemimpin kelas. Karena itu ia harus bisa menguasai, mengendalikan dan mengarahkan kelas menuju tercapainya tujuan pembelajaran yang berkualitas.

c. Fasilitator, yaitu guru bertugas memfasilitasi murid untuk menemukan dan mengembangkan bakatnya secara pesat.

d. Motivator, seorang guru harus mampu membangkitkan semangat dan mengubur kelemahan anak didiknya.[15]



Dapat dipahami seorang guru akan dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing sudah dilaksanakan. Guru bertanggung jawab membimbing peserta didik dengan tujuan, belajar mengenal, memaham menghadapi ilmu pengetahuan, dunia iman, dunia karya dan dunia sosial budaya. Guru juga merupakan sebagai jembatan sekaligus agen yang menjadikan peserta didik untuk menimbang pengetahuan, pemahaman dan memberi kontribusi bagi dunia anak. Guru dipengaruhi oleh apa yang diketahuinya dan diyakini tentang seluk beluk pendidikan, pengajaran serta membawa teori pembelajaran ke dalam praktek sebagai guru yang memiliki kemampuan merancang dan mengimpementasikan berbagai strategi pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan.




[1]Hamdani (2011),Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia, hal.18


[2] Sutarjo Adi Susilo (2012), Pembelajaran Nilai Karakter, Jakarta: Rajawali Press, hal.85


[3] Hamdani (2011),Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia, hal.18


[4] Ahmad Sabri (2010), Strategi Belajar Mengajar & Micro Teaching, Jakarta: Quantum Teaching, hal.1


[5] Sutarjo Adi Susilo (2012), Pembelajaran Nilai Karakter, Jakarta: Rajawali Press, hal.85


[6] Syaiful Bahri Djamarah dalam Windisyah Putra (2014), Menghadirkan Lembaga PAUD Ideal di Indonesia, Takengon: Media Utama, hal.166


[7] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 74 Tahun 2008 tentang guru


[8] Muhammad Fadlillah,Desain Pembelajan…, hal.80


[9] Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru


[10] Windisyah Putra, Manghadirkan Lembaga…, hal.92


[11] Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, hal. 93


[12]Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, hal. 93-94


[13] Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran…, hal.95-95


[14] W. Gulo, Strategi........hal, 14


[15] Jamal Ma’mur Asmani (2010) Tips Menjadi Guru Inspiratif Kreatif dan Inovatif Jokjakarta: Diva Press. hal 39

Belum ada Komentar untuk "Pengertian Strategi Guru Pada Taman Kanak-kanak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel